Cegah Risiko Medis di Sekolah, VITA School Gelar Pelatihan P3K Bersama RKZ Surabaya
News
SURABAYA – VITA School menggelar kegiatan Team Building yang berkolaborasi dengan Rumah Sakit Katolik St. Vincentius A Paulo (RKZ) Surabaya pada Rabu (14/10/2026). Mengusung tema "Edukasi P3K & Basic Life Support", acara ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, serta kesiapsiagaan para staf dan tenaga pengajar dalam menangani berbagai situasi darurat medis di lingkungan sekolah. Kegiatan pelatihan ini menghadirkan empat tenaga medis profesional sebagai narasumber, yaitu dr. Elaine Millicent, Yohanes Andika Eka Putra, Yasinta Enggar Yuristiani, dan Agatha Winarsih.
Dalam sesi materi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), para narasumber membagikan berbagai penanganan praktis untuk situasi darurat sehari-hari. Salah satunya adalah penanganan mimisan yang benar, yaitu dengan posisi duduk tegak serta badan dan kepala sedikit condong ke depan, bukan menengadah ke atas agar darah tidak masuk ke saluran napas. Tim medis juga mengingatkan bahaya dehidrasi pada kasus keracunan makanan serta penanganan alergi berat (anaphylaxis) menggunakan EpiPen di kotak P3K yang tetap memerlukan observasi lanjutan.
Selain itu, pertolongan pada cedera fisik juga menjadi sorotan utama. Untuk menghentikan pendarahan hebat, peserta diajarkan untuk mengikat area di atas luka dengan kuat. Apabila terjadi kasus tertusuk benda tajam, benda tersebut tidak boleh langsung dicabut agar dapat menahan pendarahan dan harus dijaga kestabilannya agar tidak memperparah luka. Narasumber turut mengingatkan agar bentol melepuh (bula) tidak dipecahkan agar lapisan kulit tetap utuh. Sementara itu, penanganan keseleo (sprain) pada tiga hari pertama harus menggunakan kompres dingin yang dilapisi kain, serta kewaspadaan terhadap indikasi cedera tulang leher yang ditandai dengan rasa kebas atau kesemutan pada tangan dan kaki.
Materi vital mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) juga dipraktikkan secara langsung karena otak manusia hanya mampu bertahan tanpa oksigen selama 4 hingga 6 menit. Dalam kondisi darurat, peserta dituntut mampu mengidentifikasi kondisi korban seperti henti napas atau henti jantung maksimal dalam waktu 10 detik melalui pemeriksaan nadi karotis di area leher yang paling dekat dengan jantung. Jika ditemukan kasus henti jantung, tindakan Resusitasi Jantung Paru (CPR) harus segera dilakukan pada korban berposisi terlentang dengan penekanan di tulang dada tengah. Prosedur CPR dijalankan dengan pola 30 kali kompresi per siklus dan jeda 2 detik untuk memberikan ruang bagi jantung melakukan recoil secara sempurna.
Kegiatan ini pun mendapat apresiasi positif dari para peserta. Nurse VITA Elementary, Nurse Ningrum, menyampaikan bahwa edukasi ini menjadi ajang untuk menyegarkan kembali pengetahuan medis yang sangat bermanfaat. Menurutnya, penanganan yang benar dan cepat dapat mencegah cedera ringan berkembang menjadi lebih parah, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri untuk mengubah kepanikan menjadi tindakan nyata karena peserta memahami hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengetahuan ini untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman serta mengisi celah waktu kritis saat menunggu bantuan medis tiba. "Mobil ambulans atau tim medis kan memerlukan waktu untuk sampai ke lokasi. Nah, kita sebagai orang yang berada di sekolah ini bisa mengisi celah waktu kritis tersebut agar korban tetap mendapat penanganan yang baik," pungkas Nurse Ningrum.
Stay Updated
Get all the updates and latest news in one place.
Indonesia
English